ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

SAYA BERHARAP SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT BAGI TEMAN2 YANG SEDANG MENCARI..................ILMU tentang keperawatan.




Rabu, 23 Desember 2009

KONSEP DASAR PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI

HALUSINASI

A. KONSEP DASAR PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI
1. Pengertian
a. Persepsi
Beberapa pengertian persepsi menurut para ahli :
1) Persepsi adalah proses diterimanya rangsang sampai rangsang itu disadari dan dimengerti penginderaan/sensasi : proses penerimaan rangsang. (Harber, Judith, 1987 ).
2) Persepsi mengacu pada identifikasi dan interpretasi awal dari suatu stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui pancaindra. (Stuart, 2007).
Jadi, gangguan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakan antara rangsang yang timbul dari sumber internal seperti pikiran, perasaan, sensasi somatik dengan impuls dan stimulus eksternal dengan maksud bahwa manusia masih mempunyai kemampuan dalam membandingkan dan mengenal mana yang merupakan respon dari luar dirinya.
Manusia yang mempunyai ego yang sehat dapat membedakan antara fantasi dan kenyataaan. Mereka dalam menggunakan proses pikir yang logis, membedakan dengan pengalaman dan dapat memvalidasikan serta mengevaluasinya secara akurat. Jika ego diliputi rasa kecemasan yang berat maka kemampuan untuk menilai realitas dapat terganggu.
Persepsi mengacu pada respon reseptor sensoris terhadap stimulus eksternal. Misalnya sensoris terhadap rangsang, pengenalan dan pengertian akan perasaan seperti : ucapan orang, objek atau pemikiran. Persepsi melibatkan kognitif dan pengertian emosional akan objek yang dirasakan.
Gangguan persepsi dapat terjadi pada proses sensoris dari pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan dan pengecapan. Gangguan ini dapat bersifat ringan, berat, sementara atau lama. (Harber, Judith, 1987).
b. Halusinasi
Perubahan persepsi sensori adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat (yang diprakarsai secara internal atau eksternal) disertai dengan suatu pengurangan berlebih-lebihan, distorsi atau kelainan berespon terhadap setiap stimulus. (Towsend, 1998).
Perubahan persepsi sensori adalah suatu keadaan dimana individu atau kelompok beresiko mengalami perubahan dalam jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang datang (Carpenito, 1998).
Perubahan persepsi sensori adalah tanggapan indera terhadap rangsangan yang datang dari luar berupa rangsangan penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan, perabaan (Soewadi 1999,
Gangguan persepsi sensori ditandai oleh adanya halusinasi. Beberapa pengertian halusinasi di bawah ini di kemukakan oleh beberapa ahli :
Halusinasi adalah penerapan tanpa adanya rangsang pada panca indera seorang pasien yang terjadi dalam keadaan bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik atau histerik (W.F Maramis, 2005,
1) Halusinasi adalah kesan atau pengalaman sensori yang salah (Stuart, 2007)
2) Halusinasi adalah persepsi sensorik yang salah di mana tidak terdapat stimulus sensorik yang berkaitan dengannya, yang dapat berwujud pengindraan kelima indra yang keliru. (Arif, 2006)
3) Halusinasi adalah bila rangsang dari luar terhadap indera itu tidak nyata tetapi penderita yakin kalau itu ada (Soewadi, 1999,
4) Halusinasi adalah persepsi yang salah terjadi tanpa adanya stimulus eksternal (Stuart dan Laraia, 2002, dikutip oleh Bambang Triwahono
5) Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan ditelinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001).
Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh para ahli mengenai halusinasi, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa halusinasi adalah persepsi sensori klien terhadap lingkungan tanpa ada stimulus yang nyata.
Sedangkan halusinasi penglihatan adalah persepsi indera penglihatan yang salah tanpa adanya stimulus eksternal yang nyata.

2. Etiologi halusinasi
Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi dapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik.
Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas.
Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan.
Penyebab halusinasi secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis, psikologis, sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan, biologis, pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.
3. Patofisiologi halusinasi
Stuart dan Sundeen (1998), mengemukakan dua teori tentang halusinasi, yaitu :
a. Teori biokimia
Respon metabolik terhadap stress yang mengakibatkan pelepasan zat halusinogen pada sistem limbik otak, atau terganggunya keseimbangan neurotransmiter di otak.
b. Teori psikoanalisa
Halusinasi merupakan pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang di tekan yang kemungkinan mengancam untuk timbul.

4. Gejala Halusinasi
Seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala yang khas. Menurut H.G. Morgan (1998) bahwa gejala halusinasi adalah :
a. Mendengar pikirannya sendiri
b. Mendengar suara-suara yang berargumentasi, mengomentari perbuatannya.
c. Somatic passivity : pengalaman bahwa ada kekuatan dari luar yang mempengaruhi tubuhnya.
d. Pikiran ditarik keluar, disisipi atau diinterupsi oleh pengaruh luar.
e. Pikiran yang dipancarkan (disiarkan) atau percaya bahwa orang lain juga demikian.
f. Perasaan, impuls dorongan dirasakan diatur dari luar.
Sedangkan menurut Yani (2005), gejala halusinasi adalah :
a. Bicara, senyum, tertawa sendiri.
b. Menggerakkan bibir tanpa suara.
c. Pergerakan mata yang cepat.
d. Respon verbal lambat.
e. Menarik diri dan menghindar dari orang lain.
f. Tidak dapat membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak nyata.
g. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah.
h. Perhatian dengan lingkungan kurang
i. Sulit berhubungan dengan orang lain.
j. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung, jengkel dan marah.
k. Tidak mampu mengikuti perintah perawat.
l. Tampak tremor dan berkeringat.
m. Perilaku panik agitasi atau katakon
n. Tidak dapat mengurus diri sendiri.


5. Jenis-jenis halusinasi
Halusinasi dapat diklasifikasikan menjadi 7 macam (Stuart dan Laraia, 2001, hal 409) :
a. Halusinasi pendengaran : mendengar suara-suara atau bisikan paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien disuruh untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang dapat membahayakan.
b. Halusinasi penglihatan : stimulus visual dalam bentuk kelihatan cahaya, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.
c. Halusinasi penciuman : membaui bau-bauan tertentu umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan.
d. Halusinasi pengecapan : Merasakan sesuatu yang tidak nyata seperti rasa darah, urine, feses.
e. Halusinasi perabaan : mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.
f. Halusinasi Cenesthetic : merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makanan.
g. Halusinasi Kinesthetic : merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

6. Tahapan halusinasi
Tahapan halusinasi terdiri dari 4 (empat) fase (Stuart dan Laraia, 2001 hal 424):
a. Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.
b. Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah, asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita.
c. Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Disini klien sukar berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah.
d. Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Disini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks, tidak mampu berespon lebih dari 1 (satu) orang.

7. Rentang respon halusinasi.
Halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi. Ini merupakan respon persepsi paling maladaptif. Jika klien yang sehat persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera, maka klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun sebenarnya stimulus itu tidak ada.

Berikut ini, rentang respon neurobiologis dimana halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif dari persepsi.






Respon Adaptif Respon Maladaptif
• Pikiran logis
• Persepsi akurat
• Emosi konsisten dengan pengalaman
• Perilaku sesuai
• Berhubungan sosial • Distorsi pikiran
• Ilusi
• Reaksi emosi berlebihan atau kurang
• Perilaku aneh/ tidak biasa
• Menarik diri • Gangguan pikir / delusi
• Halusinasi
• Sulit berespon emosi
• Perilaku disorganisasi
• Isolasi sosial
Gambar 1. Rentang Respon Neurobiologi (Stuart, 2007 : 241)
a. Pikiran Logis : ide yang berjalan secara logis dan koheren.
b. Persepsi Akurat : persepsi akurat yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indera yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun di luar dirinya.
c. Emosi konsisten : manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung lama.
d. Perilaku sesuai : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya umum yang berlaku.
e. Hubungan Sosial : hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan individu dan kelompok dalam bentuk kerjasama.
f. Proses pikir kadang terganggu (ilusi) : misinterpretasi dari persepsi impuls eksternal melalui alat panca indera yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai kejadian yang telah dialami sebelumnya.
g. Emosi yang berlebihan atau kurang : manifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang.
h. Perilaku tidak sesuai atau tidak biasa : perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum yang berlaku.
i. Menarik diri : percobaan untuk menghindari interaksi huungan dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.
j. Waham : keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi atau dibuktikan dengan realitas.
8. Pengobatan Halusinasi
Pengobatan pada pasien halusinasi yaitu :
a. Chlorpromazine (CPZ)
CPZ adalah derivat yang mempunyai khasiat dan bekerja pada susunan saraf pusat, yaitu mendepresi sub kortikal SSP yang menimbulkan efek psikotropik, sedasi, anti emetik dan dapat menekan refleks batuk. Penghambatan pada hipothalamus dapat mempengaruhi mekanisme pengaturan suhu. CPZ digunakan dalam penanganan psikosis akut atau kronis yang meliputi skizofrenia dan fase manik pada gangguan depresi manik.
Efek Samping
Efek samping yang dapat terjadi pada pemakaian CPZ meliputi efek sedasi, pusing, pingsan, hipotensi orthostatik, palpitasi, takikardi, sindroma pada mulut, kemerahan pada mukosa, vesikel lidah kotor, gigi tanggal, pandangan kabur, konstipasi, retensi urine, ejakulasi tertahan. CPZ juga menyebabkan efek samping ekstra piramidal yang meliputi parkinsonisme, distonia, diskinesia. Gangguan hormonal dapat terjadi yaitu menstruasi tidak teratur, ginekomastia, penurunan libido, peningkatan nafsu makan, berat badan meningkat, edema glikosuria, hiperglikemia atau hipoglikemia. Reaksi hipersensitif pada beberapa orang menimbulkan efek/gejala-gejala jaundice, gatal-gatal pada kulit, petechia, dermatitis dan reaksi anafilaktif.
b. Haloperidol (HLP)
HLP adalah obat antipsikotik derivat yang khasiatnya hampir sama dengan derivat fenotiazin (CPZ). Kemungkinan terjadinya efek samping ekstrapiramidal lebih tinggi dibandingkan obat golongan fenotiazin sedangkan efek sedatif dan hipotensi kurang dibandingkan dengan jenis obat transequalizer yang lain. Mekanisme tepatnya yaitu mendepresi susunan saraf pusat pada tingkat subkortikal mid brain dan batang otak. Efek anti emetik juga terjadi. Haloperidol biasanya digunakan pada psikosa akut dan kronis, fase manik pada psikosis manik-depresi dan psikoreaktif.
Efek Samping
Efek samping HLP serupa dengan CPZ, perbedaannya terletak pada efek samping hipotensi orthostatik lebih ringan, sedang efek samping reaksi ekstra lebih berat. Efek samping pada SSP meliputi parkinsonisme, gelisah, ataksia, hiperfleksi, kortikolis dan kardive diskenesia. Efek otonomi dapat terjadi, mulut kering (hipersalivasi), konstipasi (diare), reaksi urine diaporesis (dosis berlebihan). Pada darah, dapat terjadi leukopenia, leukositosis, anemia. Pada saluran napas, terjadi laringospasme, bronkhospasme, peningkatan kedalaman napas, bronchopneumonia, depresi pernapasan. Pada endokrin, menstruasi tidak teratur, nyeri pada payudara, ginekomastia, impotensi. Pada kulit, kemerahan, rambut rontok. Dapat juga terjadi anoreksia, mual, muntah, jaundice, penurunan kadar kolesterol darah.
c. Trihexyphenidil (THP)
THP adalah obat yang sering dipakai sebagai penyerta pemberian obat anti psikotik jenis fenotiazin dan butirofenon karena khasiatnya merelaksasi otot polos dan spasmodik.
Efek samping
Efek samping yang umum terjadi : mulut kering, pusing, pandangan kabur, midriasis, fotofobia, mual, nervous, konstipasi, mengantuk, retensi urine. Pada SSP dapat terjadi : bingung, agitasi, delirium, manifestasi psikotik, euforia, reaksi hipersensitif : glaukoma parotitis.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
Menurut Carpenito dikutip oleh Keliat (2006), pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
Asuhan keperawatan juga menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, menentukan masalah/diagnosa, menyusun rencana tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi.

1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan, yang terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan, atau masalah klien. (Keliat, 2006). Kegiatan yang perlu dilakukan perawat adalah mengkaji data dari klien dan keluarga tentang tanda dan gejala serta faktor penyebab. Data yang langsung yang didapat oleh perawat disebut sebagai data primer, dan data yang diambil dari hasil pengkajian atau catatan tim kesehatan lain disebut sebagai data sekunder.
Menurut Stuart (2007), berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman pengkajian umum, pada formulir pengkajian proses keperawatan. Pengkajian meliputi beberapa faktor antara lain :
a. Faktor predisposisi
Meliputi faktor perkembangan, sosio kultural, psikologi, genetik dan biokimia. Jika tugas perkembangan terhambat dan hubungan interpersonal terganggu, maka individu akan mengalami stres dan kecemasan. Berbagai faktor di masyarakat dapat membuat seseorang merasa terisolasi dan kesepian yang mengakibatkan kurangnya rangsangan dari eksternal. Stres yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan sistem neurotransmiter. Hubungan interpersonal tidak harmonis. Peran ganda bertentangan sering mengakibatkan kecemasan dan stres.
b. Faktor presipitasi
Berbagai stressor dapat mengakibatkan timbulnya halusinasi, hubungan interpersonal masalah psikososial dapat meningkatkan kecemasan dan stres sebagai pencetus terjadinya halusinasi.
c. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku menarik diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara inkoheren, bicara sendiri, tidak membedakan yang nyata dengan yang tidak nyata.
d. Mekanisme koping
Regresi : menjadi malas beraktifitas sehari-hari
Proyeksi : mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.
Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
Keluarga mengingkari masalah yang dialami oleh klien.
e. Status Mental
Pemeriksaan status mental merupakan contoh representatif kehidupan psikologis pasien dan sejumlah observasi dan kesan perawat pada saat itu. Pemeriksaan ini terdiri atas beberapa elemen seperti penampilan, pembicaraan, aktivitas motorik, interaksi selama wawancara, alam perasaan, afek, persepsi, isi pikir, proses pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentrasi dan berhitung, penilaian, dan daya tilik diri. (Stuart, 2007).
f. Kebutuhan persiapan pulang

2. Pohon masalah
Bila data telah terkumpul, perawat kemudian merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang telah terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan serta dapat digambarkan sebagai pohon masalah. (FASID, 1983 & INJF, 196 dikutip oleh Keliat, 2006).
Agar penentuan pohon masalah dapat dipahami dengan jelas, penting untuk memperhatikan tiga komponen yang terdapat pada pohon masalah, yaitu penyebab (causa), masalah utama (core problem), dan akibat (effect). (Keliat, 2006).
Berikut pohon masalah klien dengan masalah utama halusinasi menurut Keliat (2006) :













Gambar 2 : Pohon Masalah Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi (Keliat, 2006 : 45)
Dari gambar tersebut, klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai pada fase IV, dimana klien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Halusinasi merupakan akibat dari harga diri rendah dan kurangnya keterampilan klien dalam berinteraksi sosial. Klien kemudian menarik diri dari lingkungan dan kemudian juga berefek pada kurangnya perhatian klien untuk merawat dirinya sehingga dapat menimbulkan masalah pada kesehatannya.
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan masalah klien yang mencakup baik respon sehat adaptif maupun maladaptif serta stressor yang menunjang. (Stuart dan Sundeen, 1998)
Komponen diagnosa keperawatan :
a. Problem (masalah) : nama atau label diagnosa
b. Etiologi (penyebab) : alasan yang dicurigai dari respon yang telah diidentifikasi dari pengkajian.
c. Sign dan Sympton (tanda dan gejala) : manifesitasi yang diidentifikasi dalam pengkajian yang menyokong diagnosa keperawatan.
Ada beberapa diagnosa keperawatan yang sering ditemukan dan dapat ditegakkan pada klien dengan halusinasi menurut Keliat (2006), antara lain :
a. Gangguan persepsi sensori : halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
b. Resiko perilaku mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi.
c. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
d. Gangguan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan defisit perawatan diri.
4. Perencanaan
Perencanaan tindakan keperawatan terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu : tujuan umum, tujuan khusus dan intervensi keperawatan. Tujuan umum berfokus pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnosis. Tujuan umum ini dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai, dimana tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi (E). Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan yang perlu dicapai atau dimiliki klien. Kemampuan tersebut terdiri dari 3 (tiga) aspek yaitu kognitif, psikomotor dan afektif yang perlu dimiliki klien untuk menyelesaikan masalahnya. (Stuart dan Laraia, 2001). Satu hal yang patut menjadi perhatian adalah bahwa tujuan umum dan khusus yang telah ditetapkan akan tercapai dengan maksimal bila terbina hubungan kemitraan dan kerja sama yang baik antara perawat, klien dan keluarga. (Keliat, 2006).
Menurut Keliat (2006), rencana tindakan keperawatan untuk diagnosa keperawatan resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi adalah :
a. Tujuan umum : tidak terjadi perilaku kekerasan yang diarahkan kepada diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
b. Tujuan khusus :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2) Klien dapat mengenal halusinasinya.
3) Klien dapat mengontrol halusinasinya.
4) Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik untuk mengontrol halusinasinya.
5) Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol halusinasinya.
c. Intervensi keperawatan :
Tujuan Khusus 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi :
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik.
1). Sapa klien dengan ramah, baik secara verbal maupun non verbal.
2). Perkenalkan nama perawat.
3). Tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai.
4). Jelaskan tujuan pertemuan .
5). Jujur dan menepati janji.
6). Bersikap empati & menerima apa adanya.

Rasional :
Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien.
Tujuan Khusus 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya
Intervensi :
a. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap.
Rasional :
Menghindari waktu kosong yang dapat menyebabkan timbulnya halusinasi.
b. Observasi perilaku klien yang terkait dengan halusinasinya.
Rasional :
Tahap awal untuk mengetahui adanya tanda dan gejala terjadinya halusinasi.
c. Bantu klien mengenal halusinasinya.
1) Jika menemukan klien sedang berhalusinasi, tanyakan apakah ada bayangan yang ia lihat???
2) Jika klien menjawab ada, lanjutkan bayangan apa ia lihat?
3) Katakan bahwa perawat percaya klien melihat bayangan itu namun perawat sendiri tidak melihatnya (dengan nada bersahabat dan bersungguh-sungguh).
4) Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien.
5) Katakan bahwa perawat akan membantu klien.

Rasional :
Dengan klien mengetahui halusinasinya maka klien dapat membedakan hal yang dapat membedakan hal yang nyata atau tidak.
d. Diskusikan dengan klien :
1) Situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi (jika sendiri, jengkel atau sedih).
2) Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi pagi, siang, sore, malam;terus-menerus atau sewaktu-waktu).
Rasional :
Mengetahui kualitas dan kuantitas halusinasi dan indikator memberikan intervensi selanjutnya.
e. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakannya jika terjadi halusinasi (marah/takut, sedih, dan senang), beri kesempatan.
Rasional :
Mengetahui apa yang klien rasakan terkait halusinasinya.
Tujuan Khusus 3 : Klien dapat mengontrol halusinasi
Intervensi :
a. Identifikasi bersama klien tentang cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, menyibukan diri).


Rasional :
Mengetahui tindakan yang dilakukan dalam mengontrol halusinasinya.
b. Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian kepada klien.
Rasional :
Meningkatkan harga diri klien.
c. Diskusikan dengan klien tentang cara baru mengontrol halusinasinya :
1) Melawan bayangan itu dengan mengatakan tidak mau melihat.
2) Lakukan kegiatan : menyapu/mengepel.
3) Minum obat secara teratur.
4) Lapor pada perawat pada saat timbul halusinasi.
Rasional :
Hasil diskusi sebagai bukti dari perhatian klien atas apa yg dijelaskan.
d. Bantu klien untuk memilih dan melatih cara baru memutus halusinasi secara bertahap.
Rasional :
Klien dapat mencoba dan kemudian mempraktekkan cara baru tersebut.
e. Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih. Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil.
Rasional :
Meningkatkan harga diri klien.
f. Anjurkan klien mengikuti TAK : orientasi realitas, stimulasi persepsi.
Rasional :
Membantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain dan dapat melupakan halusinasinya.
Tujuan Khusus 4 : Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol halusinasinya
Intervensi :
a. Anjurkan klien memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi.
b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat keluarga berkunjung; pada saat kunjungan keluarga) :
1) Gejala halusinasi yang dialami klien.
2) Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarganya untuk memutus halusinasinya
3) Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah; beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama.
4) Beri informasi waktu (follow up) kapan perlu mendapat bantuan; halusinasi tidak terkontrol atau resiko mencederai orang lain.
Rasional :
Mengetahui sejauhmana pngetahuan keluarga tentang halusinasi dan tindakan yang dilakukan oleh keluarga dalam merawat klien.
Tujuan Khusus 5 : Klien dapat memanfaatkan obat dalam mengontrol halusinasinya.
Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat.
Rasional :
Meningkatkan pengetahuan klien tentang fungsi obat yang diminum agar klien mau minum obat secara teratur.
b. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya.
c. Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang efek samping obat yang dirasakan.
Rasional :
Menambah pengetahuan klien tentang efek samping obat.
d. Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 B

Rasional :
Menghindari kesalahan dalam pemberian obat.
5. Implementasi
Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan dengan memperhatikan dan mengutamakan masalah utama yang aktual dan mengancam integritas klien dan lingkungannya. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini (here and now) serta hal yang tidak boleh dilupakan bahwa perawat harus mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilaksanakan. (Keliat, 2006).
6. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang dilaksanakan.
Evaluasi dibagi dua, yaitu evaluasi proses atau formatif yang dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan dan evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan anara respon klien dan tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan. (Keliat, 2006).
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan SOAP mencakup :
S : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan.
O : Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.
A : Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada.
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon.
Hasil yang diharapkan pada asuhan keperawatan klien dengan halusinasi adalah :
a. Klien mampu memutuskan halusinasi dengan berbagai cara yang telah diajarkan.
b. Klien mampu mengetahui tentang halusinasinya.
c. Meminta bantuan / partisipasi keluarga.
d. Mampu berhubungan dengan orang lain.
e. Menggunakan obat dengan benar.
Pada Keluarga :
a. Keluarga mampu mengidentifikasi gejala halusinasi.
b. Mampu merawat klien di rumah tentang cara mengatasi halusinasi dan mendukung kegiatan-kegiatan klien. (Keliat, 2006).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar