ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

SAYA BERHARAP SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT BAGI TEMAN2 YANG SEDANG MENCARI..................ILMU tentang keperawatan.




Sabtu, 23 Mei 2009

ASJEP STRIKUT URETRA

STRIKTUR URETRA

PENGERTIAN
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan perut dan kontraksi. (C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra. (C. Long , Barbara;1996 hal 338)

PENYEBAB
Striktur uretra dapat terjadi secara:
Kongenital
Striktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan anomali saluran kemih yang lain.
Didapat.
Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi)
Cedera akibat peregangan
Cedera akibat kecelakaan
Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
Infeksi
Spasmus otot
Tekanan dai luar misalnya pertumbuhan tumor
(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468 dan C. Long , Barbara;1996 hal 338)

MANIFESTASI KLINIS
Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
Gejala infeksi
Retensi urinarius
Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis
(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)
Derajat penyempitan uretra:
Ringan: jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra.
Berat: oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.
Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 )

PENCEGAHAN
Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.
(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)

PENATALAKSANAAN
Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan kateter
Medika mentosa
Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
Pembedahan
Sistostomi suprapubis
Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.
Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual.
Uretritimi eksterna: tondakan operasi terbuka berupa pemotonganjaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.
(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan keruh, pH : 7 atau lebih besar, bakteria.
Kultur urin: adanya staphylokokus aureus. Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
BUN/kreatin : meningkat
Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)

G. PENGKAJIAN
Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
Eliminasi
Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekurnsi berkemih
Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra
Makanan dan cairan
Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan
Nyeri/kenyamanan
Nyeri suprapubik
Keamanan : demam
Penyuluhan/pembelajaran

(Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)



DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL
1. Nyeri b.d insisi bedah sitostomi suprapubik
Tujuan : nyeri berkurang/ hilang
Kriteria hasil:
Melaporkan penurunan nyeri
Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat relaks
Intervensi:
Kaji sifat, intensitas, lokasi, lama dan faktor pencetus dan penghilang nyeri
Kaji tanda nonverbal nyeri ( gelisah, kening berkerut, mengatupkan rahang, peningkatan TD)
Berikan pilihan tindakan rasa nyaman
Bantu pasien mendapatkan posisi yang nyaman
Ajarkan tehnik relaksasi dan bantu bimbingan imajinasi
Dokumentasikan dan observasi efek dari obat yang diinginkan dan efek sampingnya
Secara intermiten irigasi kateter uretra/suprapubis sesuaiadvis, gunakan salin normal steril dan spuit steril
Masukkan cairan perlahan-lahan, jangan terlalu kuat.
Lanjutkan irigasi sampai urin jernih tidak ada bekuan.
Jika tindakan gagal untuk mengurangi nyeri, konsultasikan dengan dokter untuk penggantian dosis atau interval obat.

Perubahan pola eliminasi perkemihan b.d sitostomi suprapubik
Kriteria hasil:
kateter tetap paten pada tempatnya
Bekuan irigasi keluar dari dinding kandung kemih dan tidak menyumbat aliran darah melalui kateter
Irigasi dikembalikan melalui aliran keluar tanpa retensi
Haluaran urin melebihi 30 ml/jam
Berkemih tanpa aliran berlebihan atau bila retensi dihilangkan
Intervensi:
Kaji uretra dan atau kateter suprapubis terhadap kepatenan
Kaji warna, karakter dan aliran urin serta adanya bekuan melalui kateter tiap 2 jam
Catat jumlah irigan dan haluaran urin, kurangi irigan dengan haluaran , laporkan retensi dan haluaran urin <30 ml/jam
Beritahu dokter jika terjadi sumbatan komplet pada kateter untuk menghilangkan bekuan
Pertahankan irigasi kandung kemih kontinu sesuai instruksi
Gunakan salin normal steril untuk irigasi
Pertahankan tehnik steril
Masukkan larutan irigasi melalui lubang yang terkecil dari kateter
Atur aliran larutan pada 40-60 tetes/menit atau untuk mempertahankan urin jernih
Kaji dengan sering lubang aliran terhadap kepatenan
Berikan 2000-2500 ml cairan oral/hari kecuali dikontraindikasikan

Resiko terhadap infeksi b.d adanya kateter suprapubik, insisi bedah sitostomi suprapubik
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Hasil yang diharapkan:
Suhu tubuh pasien dalam batas normal
Insisi bedah kering, tidak terjadi infeksi
Berkemih dengan urin jernih tanpa kesulitan
Intervensi:
Periksa suhu setiap 4 jam dan laporkan jikadiatas 38,5 derajat C
Perhatikan karakter urin, laporkan bila keruh dan bau busuk
Kaji luka insisi adanya nyeri, kemerahan, bengkak, adanya kebocoran urin, tiap 4 jam sekali
Ganti balutan dengan menggunakan tehnik steril
Pertahankan sistem drainase gravitas tertutup
Pantau dan laporkan tanda dan gejala infeksi saluran perkemihan
Pantau dan laporkan jika terjadi kemerahan, bengkak, nyeri atau adanya kebocoran di sekitar kateter suprapubis.
(M. Tucker, Martin;1998)







































PATHWAYS

Kongenital Didapat
Infeksi
Anomali saluran kemih yang lain Spasmus otot
Tekanan dari luar:tumor Cedera uretral
Cedera peregangan
Uretritis Gonorhea






Jaringan parut penyempitan lumen uretra


Kekuatan pancaran & jumlah urin berkurang
Total tersumbat



Obstruksi saluran kemih yg bermuara ke Vesika Urinaria

Peningkatan tekanan vesika urinaria refluk urin

hidroureter
Penebalan dinding VU
hidronefrosis

penurunan kontraksi otot VU pyelonefritis


kesulitan berkemih GGK


retensi urin


sistostomi luka insisi










(Long C, Barbara; R. Sjamsuhidayat, Brunner dan suddart)



DAFTAR PUSTAKA :


Wim de, Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Alih bahasa R. Sjamsuhidayat Penerbit Kedokteran, EGC, Jakarta, 1997
Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Volume 3, Bandung, Yayasan IAPK pajajaran, 1996
M. Tucker, Martin, Standart Perawatan Pasien : Proses keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi V, Volume 3, Jakarta, EGC,1998
Susanne, C Smelzer, Keperawatan Medikal Bedah (Brunner &Suddart) , Edisi VIII, Volume 2, Jakarta, EGC, 2002
Basuki B. purnomo, Dasar-Dasar Urologi, Malang, Fakultas kedokteran Brawijaya, 2000
6. Doenges E. Marilynn, Rencana Asuhan keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Jakarta. EGC. 2000

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar