ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

SAYA BERHARAP SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT BAGI TEMAN2 YANG SEDANG MENCARI..................ILMU tentang keperawatan.




Senin, 30 November 2009

ASKEP HIFEMA

HIFEMA


A. Anatomi dan Fisiologi Pada Mata
Secara garis besar anatomi mata dapat dikelompokkan menjadi empat bagian, dan untuk ringkasnya fisiologi mata akan diuraikan secara terpadu. Keempat kelompok ini terdiri dari :
Palpebra
Dari luar ke dalam terdiri dari : kulit, jaringan ikat lunak, jaringan otot, tarsus, vasia dan konjungtiva.
Fungsi dari palpebra adalah untuk melindungi bola mata, bekerja sebagai jendela memberi jalan masuknya sinar kedalam bola mata, juga membasahi dan melicinkan permukaan bola mata.
Rongga mata
Merupakan suatu rongga yang dibatasi oleh dinding dan berbentuk sebagai piramida kwadrilateral dengan puncaknya kearah foramen optikum. Sebagian besar dari rongga ini diisi oleh lemak, yang merupakan bantalan dari bola mata dan alat tubuh yang berada di dalamnya seperti: urat saraf, otot-otot penggerak bola mata, kelenjar air mata, pembuluh darah
Bola mata
Menurut fungsinya maka bagian-bagiannya dapat dikelompokkan menjadi:
Otot-otot penggerak bola mata
Dinding bola mata yang teriri dari : sklera dan kornea. Kornea kecuali sebagai dinding juga berfungsi sebagai jendela untuk jalannya sinar.
Isi bola mata, yang terdiri atas macam-macam bagian dengan fungsinya masing-masing
Sistem kelenjar bola mata
Terbagi menjadi dua bagian:
Kelenjar air mata yang fungsinya sebagai penghasil air mata
Saluran air mata yang menyalurkan air mata dari fornik konjungtiva ke dalam rongga hidung
Definisi
Hifema adalah adanya darah di dalam kamera anterior (Smeltzer,2001). Hifema atau adanya darah dalam bilik mata depan dapat terjadi karena trauma tumpul (Sidarta,1998). Bila pasien duduk, hifema akan terlihat mengumpul di bagian bawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Darah dalam cairan aqueus humor dapat membentuk lapisan yang terlihat. Jenis trauma ini tidak perlu menyebabkan perforasi bola mata.

Etiologi
Hifema biasanya disebabkan trauma pada mata, yang menimbulkan perdarahan atau perforasi (Douglas, 2002). Inflamasi yang parah pada iris, sel darah yang abnormal dan kanker mungkin juga bisa menyebabkan perdarahan pada bilik depan mata. Trauma tumpul dapat merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Gaya-gaya kontusif akan merobek pembuluh darah iris dan merusak sudut kamar okuli anterior. Tetapi dapat juga terjadi secara spontan atau pada patologi vaskuler okuler. Darah ini dapat bergerak dalam kamera anterior, mengotori permukaan dalam kornea.
Tanda dan Gejala
Pandangan mata kabur
Penglihatan sangat menurun
Kadang – kadang terlihat iridoplegia & iridodialisis
Pasien mengeluh sakit atau nyeri
Nyeri disertai dengan efipora & blefarospasme
Pembengkakan dan perubahan warna pada palpebra
Retina menjadi edema & terjadi perubahan pigmen
Otot sfingter pupil mengalami kelumpuhan
Pupil tetap dilatasi (midriasis)
Tidak bereaksi terhadap cahaya beberapa minggu setelah trauma.
Pewarnaan darah (blood staining) pada kornea
Kenaikan TIO (glukoma sekunder )
Sukar melihat dekat
Silau akibat gangguan masuknya sinar pada pupil
Anisokor pupil
Penglihatan ganda (iridodialisis)

Patofisiologi / Pathways
Terlampir

Pemeriksaan Diagnostik
Kartu mata snellen (tes ketajaman penglihatan) : mungkin terganggu akibat kerusakan kornea, aqueus humor, iris dan retina.
Lapang penglihatan : penurunan mungkin disebabkan oleh patologi vaskuler okuler,glukoma.
Pengukuran tonografi : mengkaji tekanan intra okuler ( TIO ) normal 12-25 mmHg.
Tes provokatif : digunakan untuk menentukan adanya glukoma bila TIO normal atau meningkat ringan.
Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, edema retine, bentuk pupil dan kornea.
Darah lengkap, laju sedimentasi LED : menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
Tes toleransi glokosa : menentukan adanya /kontrol diabetes.
Penatalaksanaan Medis
Pasien tetap istirahat ditempat tidur (4-7 hari) sampai hifema diserap.
Diberi tetes mata antibiotika pada mata yang sakit dan diberi bebat tekan.
Pasien tidur dengan posisi kepala miring 60º diberi koagulasi.
Kenaikan TIO diobati dengan penghambat anhidrase karbonat. (asetasolamida).
Di beri tetes mata steroid dan siklopegik selama 5 hari.
Pada anak-anak yang gelisah diberi obat penenang
Parasentesis tindakan atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan bila ada tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang.
Asam aminokaproat oral untuk bekuan darah.
Evakuasi bedah jika TIO lebih 35 mmHg selama 7 hari atau lebih 50 mmH selama 5 hari.
Vitrektomi dilakukan bila terdapat bekuan sentral dan lavase kamar anterior.
Viskoelastik dilakukan dengan membuat insisi pada bagian limbus.



Pengkajian
1. Data subyektif
Pandangan kabur atau ganda
Penglihatan silau
Penglihatan berkurang atau tidak ada
Kesukaran melihat dekat
Kelelahan dan ketegangan mata
Nyeri
Peningkatan air mata (epifora)
Data obyektif
Tanda-tanda vital
Drainase
Haemoragi
Anisokor pupil
Pupil tidak bereaksi terhadap sinar
Perubahan kelopak mata, edema, kekakuan, kemerahan
Ketajaman penglihatan
Pembengkakan kelopak mata
Edema kornea kontusio orbita kelopak mata

Kondisi / penyakit yang menyertai
Diabetes melitus
Masalah-masalah sinus
Hipertensi
Glaukoma
Penyakit, trauma atau tumor yang berhubungan dengan serebral
Robekan retina
Penyakit autoimun

Pembedahan atau penyakit sebelumnya
Pembedahan atau penanganan mata
Trauma kepala atau muka
Koma hipertensi
Degenerasi retina
Ketergantungan zat

Riwayat keluarga
Glaukoma
Diabetes melitus
Katarak
Pigmentosa retinitis

Riwayat sosial
Bahaya pekerjaan atau rekreasi
Kewaspadaan keamanan yang digunakan
Ketergantungan obat atau alkohol
Kerja fisik yang berat






Diagnosa Keperawatan
Nyeri berhubungan dengan terpajannya reseptor nyeri sekunder terhadap trauma tumpul
Tujuan : Rasa nyeri berkurang
Kriteria hasil :
Pasien mendemonstrasikan pengetahuan pengontrolan nyeri
Pasien mengalami dan mendemonstrasikan periode tidur yang tidak terganggu
Pasien mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri ringan (1-3)
Intervensi :
Kaji tipe, intensitas dan lokasi nyeri
Gunakan tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis analgetik
Pertahankan tirah baring dengan posisi tegak atau posisi kepala 60º
Lakukan bebat mata pada bagian yang sakit
Berikan kompres dingin untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan
Berikan sedasi untuk meminimalkan aktivitas
Berikan analgetik dan kortikosteroid
Berikan gosok punggung, perubahan posisi untuk
meningkatkan kenyamanan
Bantu ajarkan teknik relaksasi

Resiko terjadi komplikasi dan perdarahan ulang berhubungan dengan patologi vaskuler okuler
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan ulang
Kriteria hasil :
Perdarahan utama segera berhenti dan dapat diserap kembali
Jumlah darah dalam kamera okuli anterior tidak bertambah
Tidak terjadi obstruksi pada jaringan trabekular
Intervensi :
Kaji jumlah perdarahan pada okuli anterior
Mata diperiksa untuk melihat adanya perdarahan sekunder
dan kenaikan TIO
Pertahankan tirah baring dan pemberian sedasi untuk minimal aktivitas
Posisikan pasien tetap dalam posisi tegak diam
Berikan balut tekan pada mata yang sakit dan lakukan penggantian balutan
Beri koagulansia dan antibiotika
Evakuasi perdarahan dengan parasentesis
Berikan anhidrase karbonat (asetasolamide) untuk atasi kenaikan TIO

Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan penglihatan
Tujuan : Pasien mampu beradaptasi dengan perubahan
Kriteria hasil :
Pasien menerima dan mengatasi sesuai dengan keterbatasan penglihatan
Menggunakan penglihatan yang ada atau indra lainnya secara adekuat
Intervensi :
Perkenalkan pasien dengan lingkungan sekitarnya
Beritahu pasien untuk mengoptimalkan alat indera yang lain
Bantu pasien untuk beradaptasi menggunakan indera lainnya yang tidak mengalami trauma
Kunjungi dengan sering untuk menentukan kebutuhan dan menghilangkan ansietas
Anjurkan untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran
Libatkan orang terdekat dalam perawatan dan aktivitas
Kurangi bising dan berikan istirahat yang seimbang

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan dan penurunan ketajaman penglihatan
Tujuan : Ansietas dapat teratasi
Kriteria hasil :
Pasien mendemonstrasikan penilaian penanganan adaptif untuk mengurangi ansietas
Pasien mendemonstrasikan pemahaman proses penyakit
Intervensi :
Kaji tingkat ansietas pasien
Diskusikan metode penanganan ansietas
Dorong mengungkapkan ansietas
Pertahankan limgkungan yang tenang
Berikan dukungan emosional
Tempatkan seluruh barang-barang yang dibutuhkan dalam jarak yang dapat dijangkau
Pastikan bahwa bantuan terhadap aktivitas sehari-hari akan ada
Bantu atau ajarkan teknik relaksasi, nafas dalam, meditasi

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai perawatan diri dan proses penyakit
Tujuan : Pasien memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penyakitnya
Kriteria hasil :
Pasien memahami instruksi pengobatan
Pasien memverbalisasikan gejala-gejala untuk dilaporkan
Intervensi :
Beritahu pasien tentang penyakit yang diderita
Ajarkan perawatan diri selama sakit
Ajarkan prosedur penetesan obat tetes mata dan penggantian balutan
pada pasien dan keluarga
Diskusikan gejala-gejala terjadinya perdarahan ulang dan kenaikan TIO



DAFTAR PUSTAKA

Vaughan, Dale. Oftalmologi Umum. Alih bahasa Jan Tambajong dan Brahm U. Ed. 14. Jakarta : Widya Medika ; 2000.
Sidarta, Ilyas. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Cet. 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1998.
Tucker, Susan Martin et al. Standar Perawatan Pasien : proses keperawatan, diagnosis dan evaluasi. Alih bahasa Yasmin Asih dkk. Ed. 5. Jakarta : Egc ; 1998
Darling, Vera H & Thorpe Margaret R. Perawatan Mata. Yogyakarta : Penerbit Andi; 1995.
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
Douglas, Raymond S. Hifema. Departement of Ophthalmology, UCLA Menical Center, Los Angeles, CA. 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar